KAMPUSKU YANG PANAS

Pagi yang sangat cerah bagaikan siang hari di bandingkan bulan-bulan dan tahun-tahun sebelumnya. Mungkinkah ini akibat pemanasan global, ataukah pohon-pohon yang rindang dan besar tak nampak kembali di UIN Malang ini. Pada tahun-tahun sebelumnya, mata ini begitu dingin ketika memandangi kampusku ini, tubuh begitu nyaman ketika duduk-duduk dibawah pohon yang rindang sambil berdiskusi pelajaran dengan teman, seakan-akan memicu otak untuk selalu jernih. Akan tetapi sekarang pohon itu telah tergantikan gedung-gedung mewah yang menjulang tinggi yang sekelilingnya hanya tertanam rumput dan pohon-pohon palem yang baru saja ditanam.
Kampusku kini mewah, tapi terlihat gersang dan panas. Tidak terdengar lagi kicauan burung-burung kecil saat dulu kami berdiskusi di bawah pohon, begitu pula gerombolan-gerombolan mahasiswa berdiskusi sudah tak nampak lagi semenjak pohon-pohon itu tergantikan gedung mewah. Terdengar celotehan dari seorang mahasiswa, UIN Malang kini mahasiswanya rata-rata bisa berbahasa arab, sampai-sampai suasananya mengikuti Negara Arab, gersang dan panas.
Pada umumnya, civitas akademika mengeluh akibat panas dan gersangnya UIN Malang ini. Lebih-lebih jurusan Kimia yang telah menerima pelajaran Kimia Lingkungan. Mereka mengetahui pentingnya pohon yang sangat berguna dan membantu proses respirasi (pernafasan). Pada siang hari, dengan bantuan sinar matahari tumbuhan akan melakukan proses fotosintesis dan sangat memerlukan karbondioksida hasil dari proses respirasi manusia dan hewan. Begitu juga manusia dan hewan sangat membutuhkan oksigen sebagai hasil dari proses fotosintesis. Apabila pohon-pohon tak ada, maka civitas akademika UIN Malang akan cepat lemas, letih dan lesu akibat kekurangan oksigen dan cuaca yang panas. Lingkungan belajar sangat mendukung terciptanya proses belajar- mengajar yang baik.
Belum lagi pengetahuan mahasiswa Kimia tentang efek rumah kaca, yang disebabkan oleh meningkatnya gas karbon dioksida (CO2), sulfur dioksida (SO2), Nitrogen Monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organic seperti gas metana (CH4) da khloro fluoro karbon (CFC). Efek rumah kaca akan menimbulkan terjadinya kenaikan suhu dipermukaan bumi, perubahan suhu yang cepat akan menyebabkan perubahan iklim yang cepat. Saat ini, sangat terasa akan kenaikan suhu dipermukaan bumi dan perubahan ikim yang tidak menentu (sangat cepat). Maka, salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah menanam pohon (tumbuh-tumbuhan), yang dapat membantu mengurangi jumlah karbon dioksida yang berlebihan.
Mahasiswa Kimia UIN Malang juga memikirkan tentang penggunaan pendingin ruangan (AC) yang sekarang sedang digalakkan penggunaannya hampir disetiap ruang kantor UIN Malang. Padahal, pendingin alami dari pepohonan akan terasa sejuk dan menyehatkan serta tidak menimbulkan bahaya bagi lingkungan. Berbeda dengan penggunaan AC yang menimbulkan bahaya, yaitu menipisnya lapisan ozon karena bahan CFC (Khloro Fluoro Carbon) yang biasanya digunakan pada pendingin ruangan (AC) tersebut. Lapisan ozon ini, berguna sebagai penyaring semua sinar ultraviolet matahari yang berbahaya bagi makhluk hidup di bumi.
Radiasi Ultraviolet-B dapat merusak materi genetic DNA dan merupakan penyebab utama kanker kulit yang saat ini jumlah penderitanya semakin meningkat. Selain itu, sinar ultraviolet juga menyebabkan penyakit katarak mata dan sangat merugikan jenis-jenis tanaman pertanian yang sangat peka terhadap sinar ultraviolet. Sinar ultraviolet juga dapat menimbulkan kerusakan kehidupan dalam perairan, yaitu ikan dan tumbuhan perairan.
Penjelasan ini dapat menyadari kita, betapa pentingnya melestarikan lingkungan. Mulai dari hal kecil, misalnya menanam dan merawat pohon dan tumbuh-tumbuhan disekeliling kita. Sebagai khalifah fil adrh, kita bertanggung jawab atas kelestarian lingkungan, tempat kita hidup. Sayangilah lingkungan kita, kalau bukan kita siapa lagi…





Baca Juga Tulisan Lainnya



1 komentar:

Anonim mengatakan...

www.miftahfauzi.blogspot.com

Posting Komentar

Klik Juga Ini